MERINDUKAN SHALAT DI MASJID


Covid-19 yang merupakan virus mematikan dan hingga hari ini (4 sya’ban 1441 H / 29 Maret 2020 M) telah menyebabkan kematian lebih dari 30 ribu jiwa di seluruh dunia. Perekonomian anjlok, sekolah-sekolah diliburkan, bahkan masjid-masjid yang selama ini menjadi tempat kaum muslimin berkumpul untuk melakukan ibadah pun di tutup.

Sungguh menyedihkan memang, namun apa boleh buat, penerapan lockdown dan physical distancing harus diterapkan oleh sebuah pemerintahan, demi memutus penularan virus yang terus berpindah dari satu orang kepada yang lain.

Dalam syariat Islam, isolasi terhadap sebuah wilayah yang terkena wabah telah diajarkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila kalian mendengarkan wabah thaun terjadi di sebuah negeri, maka jangan kalian memasukinya, dan jika terjadi di sebuah negeri sementara engkau berada di dalamnya, maka jangan engkau keluar darinya. “
( HR. Bukhari)

Oleh karenanya, dimasa khilafah Amirul Mukminin Umar bin khatib رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , terjadi wabah thaun di negeri Syam yang ketika itu dipimpin oleh gubernur Amr bin Al Ash رَضِيَ اللهُ عَنْهُ . Maka disaat menyebarnya wabah tersebut, Amr bin Al Ash memerintahkan agar masyarakat mengungsi ke bukit-bukit untuk menghindari wabah tersebut.

Lalu, bagaimana dengan shalat Jumat dan jamaah di masjid bagi kaum muslimin, bukankah hal itu merupakan perkara yang wajib??

Iya, memang betul bahwa ini merupakan hal yang diwajibkan. Namun dalam sebuah kewajiban, ada hal-hal yang dapat menggugurkan kewajiban tersebut karena adanya sebuah udzur. Misalnya, disaat hujan turun, maka itu menjadi udzur bagi seorang muslim untuk tidak menghadiri shalat Jumat atau shalat jamaah, dan dianjurkan bagi muazin agar mengucapkan ketika azan: “Shalluu fii buyuutikum” yang artinya, shalat lah kalian di rumah-rumah kalian. Hal ini telah dijelaskan dalam hadits – hadits Rasulullah ﷺ yang sahih. Kalau itu berkaitan dengan hujan air, lalu gimana bila hujan virus menyebar di masyarakat, tentu lebih utama lagi hal itu menjadi sebuah udzur. Namun, jangan khawatir mengenai pahala. Seorang yang meninggalkan kewajiban karena udzur, tetap dicatat di sisi Allah ﷻ bahwa dia melakukan amalan itu dengan sempurna.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا ”
“Apabila seorang hamba dalam keadaan sakit atau melakukan perjalanan safar, maka dicatat baginya (pahala) seperti amalan yang biasa dia lakukan ketika dia sedang mukim dan sehat.”
( HR. Bukhari)

Walhamdulillah, hal ini patut kita syukuri. Meskipun masjid tetaplah masjid, tempat yang penuh keutamaan, di masjid kita bertemu dengan saudara-saudara kita, menuntut ilmu, saling menasihati, saling melemparkan senyum, duduk sambil berdzikir kepada Allah ﷻ .

Sungguh nikmat….. Selama wabah ini masih menyebar, mungkin kita hanya bisa merindukan suasana yang penuh kenikmatan itu …, Lebih terasa lagi besarnya kenikmatan itu, disaat kita terhalang dari melakukannya, meskipun hanya bersifat sementara waktu.

Ya Allah, Angkatlah wabah ini dari negeri-negeri kaum muslimin…


✍🏻 Askary Bin Jamal

2,290 total views, 3 views today