TETANGGAKU, KUJAGA HUBUNGANKU DENGANMU

(Oleh: Al-Ustadz Abu Mua’awiyah Askary)  


Dalam syariat islam, seorang muslim diperintahkan untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan manusia secara umum. Terkhusus hubungan dengan tetangga yang merupakan bagian dari masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Bila kita memperhatikan dalil- dalil dari al-qur’an dan as-sunnah, maka kita akan menyadari betapa sempurnanya islam dalam mengatur hubungan seseorang, baik kepada Allah Azza Wajalla, maupun kepada sesama manusia.


SIAPA TETANGGAMU?

Para ulama berselisih tentang siapa saja yang termasuk tetangga dalam istilah syariat. Hadits- hadits yang menerangkan tentang batasan tetangga, tidak satupun dari riwayat tersebut yang sahih. Sehingga yang benar bahwa batasan tetangga dilihat kepada apa yang menjadi kebiasaan masyarakat. Apa yang dalam pandangan mereka bahwa itu termasuk tetangga, maka dia bagian dari tetangga kita.

Asy-Syekh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata:

“Tetangga adalah yang menempel dengan rumahmu, dan yang dekat dari itu. Telah disebutkan beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa tetangga itu hingga empat puluh rumah dari segala arah. Tidak diragukan lagi bahwa yang menempel dengan dinding rumahmu adalah tetangga. Adapun setelahnya, apabila sahih riwayat tentang hal tersebut dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam maka tetangga adalah yang disebutkan dalam riwayat. Namun jika tidak sahih, maka hal itu ditinjau kepada kebiasaan masyarakat. Apa yang dianggap oleh masyarakat bahwa itu tetangga , maka dia termasuk tetangga.”[1]

  3 JENIS TETANGGA


Tetangga ada tiga macam, yang masing- masing dari mereka memiliki hak yang lebih dibanding yang lain.


  • Pertama: Tetangga muslim, yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu. Tetangga jenis  ini memiliki tiga hak yang harus kita tunaikan, yaitu hak dia sebagai tetangga, hak dia sebagai seorang muslim, dan kewajiban kita untuk menyambung hubungan kekerabatan (silaturrahim) dengannya.
  • Kedua: Tetangga muslim, yang bukan kerabat. Dia memiliki dua hak, yaitu hak sebagai seorang muslim, dan hak dia sebagai tetangga.
  • Ketiga: Tetangga non muslim (kafir). Meskipun dia bukan seorang muslim, dia tetap memiliki hak yang harus kita tunaikan kepadanya, karena kedudukannya sebagai tetangga kita.
Allah berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Hendaklah kalian menyembah hanya kepada Allah dan jangan kalian menyekutukan dalam beribadah kepada-Nya dengan sesuatu apapun, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman dalam perjalanan, seorang yang sedang melakukan perjalanan safar, dan hamba sahaya yang kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai seorang yang sombong dan berbangga diri.”
(QS.An-Nisaa : 36)

Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud tetangga dekat adalah tetangga yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu, dan tetangga yang jauh adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan kekerabatan denganmu.

Sebagian ulama ada pula yang menafsirkan bahwa yang dimaksud tetangga dekat adalah tetangga yang muslim, dan tetangga yang jauh adalah tetangga yahudi dan nasrani. (lihat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2, hal 298)

Dari penjelasan ini, jelaslah bahwa islam memerintahkan untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan setiap tetangga, meskipun tetangga tersebut bukan seorang muslim.  


WASIAT JIBRIL KEPADA NABI `

Begitu pentingnya menyambung hubungan baik dengan tetangga dalam islam, sehingga malaikat Jibril Alaihis Salam senantiasa mewasiatkan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِى بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Senantiasa Jibril memberi wasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, hingga Aku menyangka bahwa ia termasuk  yang berhak mendapatkan warisan.” (Muttafaq alaihi dari hadits Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma)

Saudaraku muslim, perhatikan hadits yang mulia ini. Begitu pentingnya permasalahan ini sehingga Jibril Alaihis Salam berkali- kali mewasiatkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam agar senantiasa berbuat baik kepada tetangga.

Hadits ini juga bersifat umum, yang mewasiatkan untuk berbuat baik kepada tetangga ,meskipun dia seorang yang kafir sekalipun. Oleh karenanya, para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tatkala mengamalkan hadits ini, mereka senantiasa menjaga hubungan baik dengan para tetangganya, bahkan kepada yang kafir sekalipun. Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya “al-adab al-mufrad” dengan sanad yang sahih, dari Mujahid Rahimahullah, berkata: “Suatu ketika aku berada di sisi Abdullah bin Amr Bin Ash Radhiallahu Anhuma, sementara budaknya sedang menguliti kulit seekor kambing. Lalu Beliau berkata kepada budaknya: “Wahai anak muda, apabila engkau telah selesai, maka mulailah pembagiannya kepada tetangga kita yang yahudi itu.” Maka ada seseorang berkata: “Yahudi? Semoga Allah memberi kebaikan kepadamu.” Maka Abdullah bin Amr menjawab: “Sesungguhnya Aku mendengar Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa memberi wasiat untuk berbuat baik kepada tetangga, hingga aku menyangka bahwa tetangga berhak mendapatkan bagian dari harta warisan.”

Subhanallah! Abdullah bin Amr Radhiallahu Anhu memberikan hadiah dari hewan sembelihannya kepada seorang yahudi, dan Beliau menyebutkan bahwa itu merupakan bagian dari anjuran yang disebutkan oleh baginda Rasulullah untuk senantiasa berbuat baik kepada tetangga.

Kaum muslimin, inilah akhlak yang diajarkan oleh nabi kita, si pemilik akhlak yang sangat mulia. Sangat jauh dari penggambaran sebagian orang yang menampilkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai sosok yang kejam, sangar, bengis, menakutkan, suka membunuh, gemar menteror, dan berbagai macam sifat buruk lainnya, yang Rasulullah berlepas diri dari itu semua.

 
WASPADA DARI MENYAKITI TETANGGA!

Saudaraku yang budiman, islam mengajarkan kepada kita untuk jangan sekali- kali melakukan suatu perbuatan yang dapat menyebabkan tetangga kita merasa terganggu, tersakiti, serta bentuk gangguan apapun. Sebab hal itu merupakan perkara yang diharamkan di dalam islam. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
 مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan dia menyakiti tetangganya.” (Muttafaq alaihi dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anhu)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ . قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ

“Demi Allah tidak beriman (3x). Beliau ditanya: Siapa wahai Rasulullah? Jawab Beliau : orang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukan- keburukannya.” (HR.Bukhari dari Abu Syuraih dan Abu Hurairah Radhiallahu Anhuma)

Dalam riwayat Imam Muslim, Beliau bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukan- keburukannya.”
Allahu Akbar! Menyakiti tetangga menjadi penghalang seorang hamba masuk ke dalam surga? Iya, memang demikian yang disampaikan oleh baginda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada umatnya.  Bahkan meskipun dia gemar melakukan banyak amalan saleh, rajin shalat dan berpuasa, bahkan rajin bersedekah, namun jika dia suka menyakiti tetangganya, hal itu menjadi penyebab dia dimasukkan ke dalam neraka, wal ‘iyadzu billaah.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya “al-adab al-mufrad” dengan sanad yang sahih, dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam :

“Wahai Rasulullah, ada seorang wanita rajin mengerjakan shalat malam dan berpuasa di siang hari, dan melakukan kebaikan, dan gemar bersedekah, dan dia suka menyakiti tetangganya dengan lisannya? Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab:  “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.” Lalu mereka bertanya lagi: ada seorang wanita yang menegakkan shalat wajib dan bersedekah dalam jumlah yang sedikit, dan dia tidak menyakiti seorang pun? Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab: “Dia termasuk penghuni surga.”

Bila kita memperhatikan kehidupan masyarakat di sekitar kita, kita akan menyaksikan betapa banyak dari masyarakat kita yang telah melanggar bimbingan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam bertetangga. Diantara mereka ada yang mengganggu tetangganya dengan lisan, mengeluarkan kata-kata kotor dan hina yang penuh nada merendahkan kepada tetangganya, diantara mereka ada yang menyakiti dengan perbuatannya, melakukan tindakan kezaliman dengan membunuhnya, atau melukainya, atau merusak kehidupan dalam rumah tangganya. Diantara mereka ada yang mengganggu istirahat tetangganya, memutar musik dengan volume yang keras yang menyebabkan tetangganya tidak bias beristirahat, dan berbagai macam gangguan lainnya. Semoga Allah menjaga kita dari akhlak yang buruk ini.

 

SEKECIL APAPUN KEBAIKANMU KEPADA TETANGGA, PASTI BERNILAI


Jangan merasa kecil dengan pemberian yang engkau berikan kepada tetanggamu, walaupun itu sedikit. Karena itu semua akan bernilai besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mungkin engkau sedang memasak kuah daging, atau menu sayur- sayuran, atau yang lainnya, maka perbanyaklah kuahnya, dan jangan lupa untuk memberikannya kepada tetanggamu. Terlebih jika masakan tersebut memiliki aroma yang baunya terasa hingga ke rumah tetangga. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

“Wahai para  wanita muslimah, janganlah seseorang menganggap kecil pemberiannya kepada tetangganya, walaupun sekedar kaki kambing.” (Muttafaq alaihi dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu)
Hadits ini diterangkan maknanya oleh Al-Hafizh An-Nawawi Rahimahullah:

“Maknanya bahwa janganlah seseorang mencegah diri dari memberi sedekah dan hadiah kepada tetangganya karena menganggapnya sedikit atau kecil dari apa yang dimilikinya, namun hendaknya dia tetap berderma dengan sesuatu yang mudah, walaupun sedikit seperti kaki kambing, dan itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Allah Azza Wajalla berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barangsiapa yang beramal kebaikan sekecil apapun maka dia akan melihatnya.” (QS.Zalzalah:7). (Syarah Muslim, karya An-Nawawi,jil:7,hal:120)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga berkata kepada Abu Dzar Al-Ghifari Radhiallahu Anhu:
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً، فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
“Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak daging, maka perbanyaklah kuahnya, dan berikanlah kepada tetangga- tetanggamu.” (HR.Muslim)
Wasiat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ini senantiasa diingat oleh Abu Dzar. Beliau berkata: “Sesungguhnya kekasihku Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berwasiat kepadaku:
“Apabila engkau memasak daging , maka perbanyaklah kuahnya, lalu perhatikan keluarga tetanggamu, berikan bagian darinya dengan cara yang baik.” (HR.Muslim)
 

KEBAIKANMU KEPADA TETANGGGA, BISA MENJADI SEBAB HIDAYAH

Saudaraku muslim, boleh jadi dengan sebab baiknya kamu dalam bermuamalah dengan tetanggamu, akan menjadi sebab tetanggamu mendapatkan hidayah dan petunjuk. Bila dia kafir, semoga menjadi sebab dia masuk ke dalam islam karena melihat kemuliaan akhlak yang engkau miliki. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, dari sahabat Anas bin Malik Radhiallahu Anhu bahwa ada seorang anak yahudi , yang biasa memberi pelayanan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Suatu ketika anak itu sakit, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam datang menjenguknya. Beliau duduk di bagian sisi kepala anak tersebut, dan berkata kepadanya “masuk islamlah”. Maka anak itu melihat kepada ayahnya yang ada di sisinya. Maka ayahnya berkata kepada anaknya tersebut: ‘taatilah ucapan Abul Qasim (maksudnya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam)’. Akhirnya anak tersebut masuk islam. Maka Rasulullah `  keluar sambil berkata:
“Segala puji hanya bagi Allah yang telah menyelamatkan anak ini dari api neraka.” (HR.Bukhari)
Dalam berbuat baik kepada tetangga kafir, tentu dalam batasan yang berkaitan dengan perkara dunia. Adapun jika berkaitan dengan keyakinan, agama, dan ibadah, maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ikut serta, termasuk mengucapkan selamat atas keyakinan atau ibadah yang mereka lakukan. Sebab hal itu termasuk mempersaksikan kebatilan dari keyakinan yang menyimpang yang ada pada mereka, seperti menghadiri perayaan natal, atau turut mengucapkan selamat natal dan baru, dan yang semisalnya dari berbagai perayaan dalam agama mereka.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi hidayah kepada kita semua untuk berjalan diatas agama-Nya yang lurus.
 



Ditulis oleh:
Abu Muawiyah Askari bin Jamal  

27 Rabi’ awal 1440 H
5 desember 2018 M  


TETANGGAKU, KUJAGA HUBUNGANKU DENGANMU
 

11,530 total views, 7 views today