Nabi Ibrahim dan Sarah di Mesir, Nilai Sebuah Kejujuran (bagian ke 3)

Nabi Ibrahim dan Sarah di Mesir, Nilai Sebuah Kejujuran (bagian ke 3)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Kejujuran adalah tanda-tanda kemuliaan orang yang memiliki sifat ini. Tak hanya itu, kejujuran membawa pemiliknya meraih kedudukan sebagai orang-orang yang abrar (selalu berbakti).

Al-Junaid rahimahullah mengatakan, “Pada hakikatnya, jujur ialah Anda berkata benar/jujur pada tempat-tempat yang tidak ada yang dapat menyelamatkan Anda selain kebohongan.”

Jika Anda berhias diri dengan sifat jujur ini, ketahuilah bahwa itu adalah anugerah Allah subhaanahu wata’ala yang sangat besar bagi Anda.

Kata Ibnul Qayyim rahimahullah, “Tidak ada kenikmatan yang diberikan oleh Allah subhaanahu wata’ala, kepada seseorang sesudah nikmat Islam yang lebih utama daripada sifat jujur.”1

Di akhirat, tidak ada yang menyelamatkan seseorang selain kejujuran. Allah subhaanahu wata’ala, berfirman:

Artinya;

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (al-Maidah: 119)

Sering kita melihat seorang pencuri yang tertangkap dan dihukum, kemudian berhenti dari perbuatan mencuri. Demikian pula orang yang berzina. Akan tetapi, hampir-hampir tidak kita dapatkan orang yang sudah berbuat dusta dengan kedustaan yang menyelimuti ufuk, lalu bertobat dan mencabut atau mengoreksi kedustaannya. Wallahul musta’an.

Ibnu ‘Adi rahimahullah (wafat 365 H) dalam al-Kamil fi Dhu’afair Rijal (1/161) menukil dari Ahmad bin Yahya rahimahullah yang mengatakan:

الصِّـدْقُ حُلْوٌ وَهُوَ الْمُـرُّ

وَالصّـِدْقُ لاَ يَتْـرُكُهُ الْـحُـرُّ

جَوْهَـرَةُ الصِّـدْقِ لَـهَا زِيْـنَةٌ

يَحـْسُدُهَا الْيَـاقُـوْتُ وَالـدُّرُّ

Kejujuran itu manis meski hal itu pahit

Kejujuran tak kan ditinggalkan orang merdeka

Inti kejujuran sarat dengan keindahan

Permata dan mutiara pun iri kepadanya

Adapun lawannya, yaitu dusta, adalah perilaku yang buruk. Ia membimbing pelakunya kepada berbagai kejahatan hingga menuju neraka—na’udzu billahi min dzalik. Dusta adalah satu salah satu kunci dan ciri seorang munafik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ، إِذَا حَدَثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Ciri-ciri munafik itu ada tiga: jika berbicara, dia dusta; jika berjanji, dia ingkar; dan jika diberi amanah, dia khianat.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalla, menerangkan pula:

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

“Janganlah kalian berbuat dusta karena dusta itu membimbing kepada sejumlah kejahatan, dan kejahatan tersebut mengarah kepada neraka. Sungguh, seseorang benar-benar berdusta dan bersungguh-sungguh, hingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”2

Dari hadits ini, jelaslah kesalahan mereka yang beranggapan bahwa kalau kebohongan itu tidak merugikan orang lain, tidak apa-apa. Inilah yang sering terjadi di antara kita dalam majelis-majelis kita, wallahul musta’an.

Kebohongan itu merusak gambaran objek yang sudah diketahui dan merusak cara penggambarannya serta pemaparannya kepada orang lain. Sebab, orang yang berbohong itu menggambarkan sesuatu yang tidak ada sebagai sesuatu yang nyata atau sebaliknya, dan menggambarkan yang benar seolah-olah batil atau sebaliknya. Akhirnya, rusaklah gambaran dan pengetahuannya tentang objek tersebut, dalam dirinya sendiri—sebagai hukuman—kemudian dia menularkan gambaran—yang salah—tersebut kepada lawan bicaranya, yang tertipu olehnya dan memercayainya. Adapun jiwa orang yang berbohong itu sendiri sudah jauh dari hakikat yang ada.

Apabila seseorang selalu berbohong tiap kali berbicara, lalu menjadi kebiasaan, akhirnya dia akan selalu berbohong dalam segala hal. Sebab itu, pantaslah dia dicatat sebagai pendusta di sisi Allah subhaanahu wata’ala. Na’udzu billahi min dzalik.

Tidakkah kita perhatikan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang telah lalu? Demikian pula keadaan beliau ‘alaihissalam di Padang Mahsyar, pada saat seluruh manusia mendatangi beliau, mengharapkan doa beliau sebagai kekasih Allah subhaanahu wat’ala yang sangat dicintai-Nya, tetapi beliau merasa malu karena menganggap dirinya telah berbuat kesalahan besar, berdusta. Padahal hakikatnya bukan sebuah kedustaan.

Padahal, sebagaimana telah dibicarakan, ucapan-ucapan beliau itu tidaklah terhitung dusta, tetapi tauriyah. Tidak satu pun dapat dikatakan dusta.

Bagaimana dengan kita, yang bahkan dalam bergurau pun keluar ucapan-ucapan dusta, meskipun tidak ‘merugikan’ orang lain—namun sedikit banyak menjengkelkan mereka? Ingatlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang mengutarakan sesuatu lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.”3

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan pula bahwa semua amalan yang rusak, lahir dan batin, sumbernya adalah ketidakjujuran. Allah subhaanahu wata’ala menimpakan hukuman kepada orang yang suka berdusta dengan membuatnya malas, lamban, dan lebih suka duduk berpangku tangan, enggan berbuat untuk kemaslahatan dan kepentingannya, dunia dan akhirat….”4

Seandainya tidak ada bahaya dusta yang menimpa kita selain terhalangnya kita dari kedudukan sebagai orang yang jujur (shiddiq) di akhirat, sudah cukup bagi kita untuk menghindar dari kerusakan dusta ini. Oleh sebab itu, tinggalkanlah dusta dalam setiap pembicaraan. Dusta hanya akan menjauhkan seseorang dari temannya, melemparkannya ke dalam kehinaan, dan menumbuhkan kebencian dalam hati setiap orang terhadap pelakunya. Akhirnya, mereka akan berhati-hati dalam bergaul dengan Anda.

Wallahul muwaffiq.

Catatan Kaki:

1 Zadul Ma’ad (3/591).

2 HR. Abu Dawud (no. 4991), juga al-Bukhari (no. 6094) dan Muslim (no. 2607) dengan lafadz yang lain.

3 HR. Abu Dawud (no. 4990), at-Tirmidzi (no. 2315), dan ad-Darimi (no. 2702), dinyatakan hasan oleh al-Albani.

4 Badai’ul Fawaid (1/136).

Sumber :

http://asysyariah.com/nabi-ibrahim-dan-sarah-di-mesir-nilai-sebuah-kejujuran/