Hukum Berbicara Saat Khutbah, Karena Khabtib Tidak Syar’i

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah ditanya:

Apa hukum orang yang menjadikan khutbah jum’at sebagai ajang menyebar berita , apakah wajib didengarkan dan diam?

Beliau rahimahullah menjawab:

“Tidak wajib diam untuk mendengarnya, jika dia menjadikan khutbah jum’at hanya untuk menyebar berita. telah diriwayatkan bahwa Ibrahim An- Nakha’i رحمه الله bersama sekelompok orang berbincang-bincang pada saat Bani Umayyah berkhotbah, apabila mereka diingkari maka ia menjawab: sebab Allah azza wajalla, berfirman:

وَإِذَا قُرِىءَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Apabila dibacakan kepada kalian maka simaklah dan diamlah, semoga kalian mendapatkan rahmat.”

Allah Allah azza wajalla, juga berfirman:

{ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْاْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلْبَيْعَ }

“Wahai orang- orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari jum’at maka bersegeralah kalian menuju dzikrullah dan tinggalkan jual beli.”

Maka apabila keadaan khutbahnya seperti penyebaran berita, kosong dari firman Allah Allah azza wajalla, dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menjadi pendukung kebatilan, dan ahlul batil tidak wajib disimak ucapannya dan tidak didengarkan, dan boleh baginya berbicara.

Adapun jika khatib ingin menyampaikan satu pembahasan tertentu untuk kemaslahatan Islam dan kaum muslimin, dan bukan dari hawa nafsu, maka tidak mengapa dia menyampaikan bahasan tersebut. Wallahul musta’an.

Kalian telah mendengarkan firman Allah Allah azza wajalla:

{ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْاْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلْبَيْعَ }

“Wahai orang- orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari jum’at maka bersegeralah kalian menuju dzikrullah dan tinggalkan jual beli.”

Sumber:

(http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2972)