Perkataan Ulama Ahlussunnah Tentang Agama Syi’ah

Perkataan Ulama Ahlussunnah Tentang Agama Syi’ah

oleh : Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Al-Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr al-Marrudzi, dari Abu Abdillah bahwa al-Imam Malik rahimahullah berkata,

“Orang yang mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki bagian di dalam Islam.” (as-Sunnah, al-Khallal, 2/557)

Ibnu Katsir rahimahullah juga menyebutkan pendapat al-Imam Malik rahimahullah tatkala menerangkan tafsir surat al-Fath ayat 29, “Dari ayat ini, al-Imam Malik rahimahullah—dalam sebuah riwayat—mengambil hukum tentang kafirnya Rafidhah yang membenci para sahabat.

Sebab, para sahabat membuat mereka marah. Siapa yang marah terhadap para sahabat, dia kafir berdasarkan ayat ini. Ada sebagian ulama yang menyetujui pendapat beliau tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/362)

Al-Qurthubi rahimahullah berkata,

“Ucapan al-Imam Malik baik dan penakwilannya benar. Barang siapa mendiskreditkan salah seorang dari mereka (para sahabat) atau mencela riwayatnya, sungguh dia telah membantah Allah Subhanahu wata’ala dan membatalkan syariat kaum muslimin.” (Tafsir al- Qurtubi, 297/16)

Al-Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr al-Marrudzi yang mengatakan bahwa dirinya bertanya kepada Abu Abdillah (al-Imam Ahmad rahimahullah) tentang seseorang yang mencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah ? Al-Imam Ahmad rahimahullah menjawab, “Aku tidak memandangnya berada di atas Islam.” Al-Imam Ahmad rahimahullah juga berkata, “Barang siapa mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kami tidak merasa aman bahwa dia telah keluar dari agama.” (as-Sunnah, al-Khallal, 3/493)

Ali bin Abdush Shamad berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (yakni al-Imam Ahmad) tentang seorang Syiah Rafidhah tetangga kami yang mengucapkan salam kepada kami, apakah boleh aku membalasnya?” Beliau menjawab, “Tidak boleh.” (as-Sunnah, al-Khallal, 3/493-494) Musa bin Harun bin Ziyad rahimahullah berkata, “Aku mendengar al-Firyabi ditanya seseorang tentang orang yang mencela Abu Bakr, dan beliau menjawab, ‘Kafir’.” (as-Sunnah, al- Khallal, 35/499)

Ahmad bin Yunus rahimahullah berkata, ”Seandainya seorang Yahudi menyembelih seekor kambing dan seorang Rafidhi juga menyembelih, aku pasti memakan sembelihan Yahudi dan tidak memakan sembelihan Rafidhi karena dia telah murtad dari Islam.” (ash-Sharimul Maslul, Ibnu Taimiyah, 3/1062)

Abdul Qahir al-Baghdadi rahimahullah berkata, “Adapun para pengikut hawa nafsu seperti al-Jawardiyah, al-Hisyamiyah, al-Jahmiyah, dan al-Imamiyah yang telah mengafirkan manusia pilihan dari kalangan para sahabat…, sesungguhnya kami mengafirkan mereka. Menurut kami, jenazahnya tidak boleh dishalati dan tidak boleh shalat bermakmum di belakangnya.” (al-Farqu Baina al-Firaq, 357)

Abu Said Abdul Karim as- Sam’ani rahimahullah berkata, “Kelompok Imamiyah (Rafidhah, -pen.) bersepakat menganggap sesat para sahabat karena mereka menyerahkan keimamahan kepada selain Ali radhiyallahu ‘anhu. Umat ini pun bersepakat mengafirkan kelompok Imamiyah karena meyakini sesatnya para sahabat, mengingkari ijma’ mereka, dan menisbatkan hal-hal yang tidak sepantasnya kepada mereka.” (al-Ansab, as-Sam’ani, 3/188)

Sumber : Asy Syariah