Penjelasan Tentang Ali Al Halabi Sesuai Apa Yang Aku Ketahui

PENJELASAN TENTANG ALI AL-HALABI SESUAI APA YANG AKU KETAHUI

Ditulis oleh: Syaikh Ali Ramli Al-Urdunni حفظه الله

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد:

Sebagian saudara kita salafiyin asal Suriah bertanya kepadaku di Yordania tentang keadaan Ali Al-Halabi dan apa yang Aku ketahui tentangnya:

Mereka berkata: Kami telah mendengar tahdzir para ulama darinya, apa yang engkau ketahui tentangnya?

Maka Aku menjawab: aku akan menyebutkan kepada kalian secara ringkas poin-poin yang mana AL-Halabi dihukumi sebagai mubtadi’ dan ditahdzir karenanya, kemudian Aku akan merincinya berdasarkan apa yang Aku ketahui dari dekat tentang orang ini, namun Aku akan meninggalkan permasalahan yang paling besar dan yang paling berbahaya , sebab Al-Halabi dan para pengikutnya menjadikan tahdzir kami terhadap mereka sebagai kesempatan untuk melakukan adu domba dan permusuhan diantara kita. Maka dengan taufiq dari Allah عز وجل Aku berkata:

1. kekacauan dia dalam permasalahan iman, dan menetapkan aqidah Murji’ah dalam sebagian permasalahannya.

2. Permainan dia dan yang bersamanya terhadap harta milik markaz Al-Albani.

3. Membela ahli bid’ah.

4. Memerangi ahlussunnah dan para masyaikhnya,

5. Mempermainkan kaedah-kaedah jarah wat ta’dil.

6. Penipuan dia dan yang bersamanya terhadap para pemuda salafiyin dan membiarkan mereka dalam kejahilan dan tidak memberi pelajaran kepada mereka.

secara rinci Aku mengatakan – semoga Allah senantiasa menjaga kalian-:

1. kekacauan dia dalam permasalahan iman dan menetapkan aqidah murji’ah dalam sebagian masalah.

Adapun tentang Murji’ah, sudah merupakan hal yang tetap dalam ahlussunnah bahwa iman mencakup keyakinan, ucapan dan amalan, tidak mencukupi salah satu dari tiga hal ini kecuali bersama yang lain, sebagaimana yang dikatakan Imam Syafi’i, dan Beliau menukil adanya kesepakatan atas hal ini, dan telah disebutkan pula hal ini oleh beberapa ulama salaf. adapun kaum murji’ah mengatakan: Iman itu hanyalah keyakinan saja, dan ini pendapat jumhur mereka. sebagian ada yang berkata: iman adalah keyakinan dan ucapan, dan ada lagi pendapat lainnya dari mereka, yang mereka bersepakat dalam hal mengeluarkan amalan dari iman. dibangun diatas hal ini, kekufuran menurut mereka hanya terbatas pada keyakinan, atau keyakinan dan ucapan. seringkali mereka menyebutkan dalam kitab-kitab mereka: kekufuran adalah mendustakan, sementara amalan jasmani yang dihukumi dalam syari’at sebagai kekufuran, mereka mengatakan: itu menunjukkan atas kekufuran dalam hatinya dan bukan amalan tersebut yang menjadi sebab kekufuran, sebab kekufuran tidak dapat terjadi dengan amalan berdasarkan apa yang dibangun diatas prinsip mereka. Kalian mendapati dalam kitab-kitab mereka selalu mengembalikan kufur amalan kepada masalah keyakinan. Sujud kepada patung misalnya, merupakan dalil atas kekufuran dalam hatinya, dan amalan tersebut bukanlah merupakan kekufuran semata. Demikian pula mencela Allah عز وجل , tidak dikatakan kafir kecuali jika dia menghalalkan hal itu dalam hatinya, dan demikian seterusnya.

Ali Al-Halabi menetapkan bahwa kekufuran tidak terjadi kecuali jika dia mendustakannya. Dia memberi muqaddimah terhadap kitab Murod Syukri “Ahkam At-Taqrir” – orang ini rusak dan perusak yang suka mencari permasalahan-permasalahan yang nyeleneh lalu dia berpendapat dengannya agar tinggi kedudukannya dan masyhur di kalangan manusia-. Setelah Lajnah Daimah membantahnya yang diketuai oleh Syaikh Bin Baaz رحمه الله dan menjelaskan bahwa itu adalah manhaj Murji’ah, Ali Al-Halabi segera menarik muqaddimahnya. Namun kembali ia mengulanginya dalam dua kitabnya: At-Tahdzir dan Shaihah. Namun dengan cara pengaburan model baru, yaitu dengan membedakan antara kufur asli dan kufur murtad, dan membatasi kufur murtad hanya dengan “mendustakan”, dengan menetapkan aqidah murji’ah. Pernah sekali ia ditanya tentang hukum mencela Allah عز وجل , maka dia mengafirkannya jika menganggap halal yang menguatkan apa yang berasal dari keyakinannya. Siapa yang ingin penjelasan, silahkan dia merujuk kepada bantahan-bantahan lajnah daimah terhadapnya, secara khusus Syaikh Al-Fauzan حفظه الله , dan juga perkataan Syaikh Ghudayyan حفظه الله tentangnya, silahkan pula dia membaca kitab “Aqwal dzil ‘irfan” dengan muqaddimah Al-Allamah Al-Fauzan حفظه الله , dan kitab ini adalah bantahan khusus terhadap Ali Al-Halabi terhadap keyakinan murji’ah yang ia tetapkan.

2. PERMAINAN DIA DAN YANG BERSAMANYA TERHADAP HARTA MARKIZ AL-ALBANI

adapun masalah harta, siapa yang meneliti keadaan markiz Al-Albani dan dana yang sampai kepadanya, dan kelalaian dalam mengelola dan menelantarkan dana tersebut, maka dia akan mengetahui bahwa kepentingan mereka bukanlah dakwah, namun mereka hanyalah memperhatikan sesuatu yang manfaatnya kembali kepada kepentingan pribadinya baik materi maupun kedudukan, padahal para syaikh pengelola markiz tersebut mandapatkan gaji bulanan berdasarkan pengakuan sekertaris markiz itu kepadaku secara khusus, lalu dalam beberapa bulan mereka tidak masuk ke dalam markiz tersebut dan bahkan tidak bertanya tentangnya. Aku sempat duduk bersama Al-Halabi dan berbicara kepadanya tentang hal itu, namun saya tidak mendapatkan darinya kecuali uzur yang dia berikan untuk dirinya dan teman-temannya. yang diketahui dari kegiatan markiz adalah beberapa daurah ilmiyah dalam setahun, yang mungkin tidak melebih dua kali daurah atau tiga kali, dan juga mencetak beberapa artikel yang disebarkan. Hakekat pun tersingkap tatkala Salim Al-Hilali pergi ke yayasan Ihya At-Turats – yang sebelumnya ditahdzir oleh Imam AL-Albani sementara mereka memujinya disebabkan karena harta yang melimpah yang dimasukkan ke dalam kantong-kantong mereka- lalu diapun meminta dana. Maka ia diberi 90000 dinar, namun saya tidak tahu apakah dinar itu Yordan atau dinar kuwait. Lalu Muhammad Musa Nashr pergi dan meminta dari yayasan tersebut, sementara dia tidak mengetahui dana yang telah diambil oleh Salim AL-Hilali. Maka mereka pun berkata: Kami telah memberikan kepada kalian. Maka Musa Nashr mengingkari, maka dilakukanlah penelitian, dan nampaklah hakikatnya dan semakin jelas bahwa yayasan itu telah mengirim uang jaminan untuk sekumpulan penuntut ilmu, dan dikirimkan kepada masing- masing mereka 10000 dinar untuk perbaikan ekonomi dan menikah. dan semakin jelas pula adanya beberapa bidang tanah milik markiz namun tercatat dengan nama- nama milik pribadi. Pada asalnya harta-harta ini tersembunyi hingga Allah عز وجل menjadikan perselisihan diantara mereka , dan mereka saling tuding. yang jelas dana tersebut telah dicuri, dan sebagian mereka tertuduh. Aku telah mengirim surat kepada mereka untuk menjelaskan apa yang dituduhkan kepada mereka sebagai pencuri harta tersebut, namun tidak mendapatkan jawaban sedikitpun.

3. PEMBELAANNYA TERHADAP AHLI BID’AH

Adapun pembelaannya terhadap ahli bid’ah maka bukan hal yang samar lagi. Aku memulai dengan Al-‘Ur-‘Ur yang telah ditahdzir oleh Imam Al-Albani ,Utsaimin, Al-Wadi’i, An-Najmi, Rabi’ dan yang lainnya. Kemudian pujian terhadap Al-Maghrawi yang telah dijelaskan kesesatannya oleh Al-Wadi’i, An-Najmi, Rabi’ dan yang lainnya. dan juga Al-Ma’ribi yang telah ditahdzir oleh orang yang paling mengerti tentangnya daripada yang lainnya, yaitu Imam Al-Wadi’i رحمه الله .

juga membela Al-Huwaini, Muhammad Hassan, yayasan Ihya At-Turats , Abu Malik Syaqrah yang bersaing bersama AL-Halabi untuk merebut kepemimpinan dalam dakwah salafiyah di negeri Syam dalam keadaan mereka berada di sisi kuburan Syaikh Al-Albani رحمه الله .

Abu Malik berkata: katakanlah…katakanlah wahai ayahanda kami , wahai Abu Malik.

maka meluap amarah sebagian kaum, dan terjadilah peperangan diantara mereka melalui kaset, kitab-kitab, sambil saling melempar tuduhan diantara mereka, lalu Syaqrah pun menampakkan manhajnya yang takfiri, dan memberi pujian kepada tokoh- tokoh takfiri seperti Abu Bashir dan yang lainnya, dan menuduh Imam Al-Albani dengan tuduhan murji’ah untuk menyenangkan para takfiriyin, lalu kemudian Al-Halabi, Masyhur dan kelompoknya melakukan perdamaian dengannya dalam keadaan Syaqrah tidak menyatakan rujuk sedikitpun baik berupa ucapan maupun perbuatan. Tatkala Al-Halabi ditanya tentang rujuknya Syaqrah maka dia berkata:

“Kami tidak mensyaratkan seperti syarat yang ditetapkan oleh orang- orang yang ghuluw (Ekstrim).” sehingga persyaratan taubat yang ditetapkan Allah عز وجل menjadi manhaj orang – orang yang ekstrim menurut penilaian Al-Halabi. Lalu terus berlanjut pujian Al-Halabi terhadap ahli bid’ah sehingga menurutnya bahwa setiap orang yang mengaku sebagai salafi maka dia benar salafi, tidak seorangpun yang keluar darinya, kecuali yang menyelisihi hawa nafsunya atau yang ditahdzirnya. Bahkan dia mencerca salah seorang da’i yang ada di tempat kami di sini hanya disebabkan karena dia melakukan qiyamul lail sebanyak 20 raka’at. Orang- orang Yordan mengenal orang ini dan mengetahui pertikaian yang terjadi antara dia dengan Al-Halabi dalam hal itu…

4. MEMERANGI AHLUSSUNNAH DAN PARA MASYAYIKHNYA

Adapun dia memerangi Ahlussunnah dan para masyayikhnya, maka itu dimulai semenjak Lajnah daimah mentahdzir darinya, terkhusus Syailh Al-Fauzan حفظه الله , maka Al-Halabi memulai celaannya terhadap Syaikh Al-Fauzan dan menuduhnya sebagai takfiri, oleh sebab itu Syaikh menghukuminya berpemikiran murji’ah, dan Ulama kerajaan (Arab Saudi) memiliki fanatik suku terhadap ucapan ini yang ia tanamkan kepada orang-orang yang ada disekitarnya.

lalu setelah itu berpindah kepada Syaikh Ubaid Al-Jabiri حفظه الله tatkala Syaikh berbicara tentangnya disebabkan Muhammad Hassan yang mengirim surat kepadaku yang ketika itu dia sedang di Arab Saudi, ia mengeluhkan perbuatan Syaikh Ubaid. Tatkala kembali, diapun menulis makalah yang dia berkata di dalamnya: Sesungguhnya pembicaraan tentang jarah wat-ta’dil memerlukan penambahan dalam ketakwaan, lalu dia menelponku dengan mengharapkan pendapatku tentang makalah tersebut, maka Aku berkata kepadanya: sepertinya Engkau menyindir Syaikh. Dia menjawab: iya. Maka akupun berbicara dengannya tentang Muhammad Hassan. Maka dia menjawab: permasalahannya bukan tentang Muhammad Hassan, namun permasalahannya lebih mendalam dari itu. Lalu Aku berkata kepadanya: maksudmu permasalahan manhaj. Ia menjawab: iya. permasalahannya adalah masalah manhaj. Lalu Aku mengirim sebuah surat nasehat kepadanya yang Aku sebarkan dalam makalahku “Kasyful Awraq min waroo’il awraaq”, silahkan Engkau merujuk kepadanya karena itu merupakan hal penting, dimana didalamnya terdapat cercaan dia yang jelas terhadap Syaikh Ubaid dan Syaikh Rabi’ , lalu kemudian dia terang-terangan mencercanya bersama kelompoknya dalam website-websitenya yang merupakan website sesat.

5. MEMPERMAINKAN KAEDAH-KAEDAH JARAH WAT-TA’DIL

Adapun dia mempermainkan kaedah-kaedah jarah wat-ta’dil maka dimulai dengan ucapannya: pada asalnya kaedah-kaedah jarah wat-ta’dil tidak memiliki dalil dari al-kitab dan as-sunnah. Dia menghendaki dengan hal itu untuk menggugurkan ilmu ini agar ia dapat membantah perkataan ulama sunnah terhadapnya dan terhadap ahli bid’ah. Tatkala diingkari ucapannya itu, maka dia menampakkan seolah- olah rujuk, namun ternyata dia bermain- main dengan metode yang lebih jahat dan lebih menipu daya, dia bermain- main dengan istilah khabar tsiqah dan ijma’, atau mengharuskan untuk ikut menjarah, dan yang semisalnya.

demikian pula dalam menerapkan kaedah- kaedah yang sahih, lalu dia menerapkannya dengan cara yang penuh makar dan jahat, kebanyakan apa yang aku sebutkan ini disebutkan dengan bukti- bukti dari ucapan Al-Halabi beserta bantahannya dalam situs sahab, baidha dan addin al-qayyim. Siapa yang ingin kebenaran dan pembuktian, silahkan dia merujuknya. Sebagian apa yang Aku sebutkan ini, bersandar kepada apa yang Aku dengarkan sendiri, Al-Halabi telah duduk bersama ulama kibar dan mereka telah berbicara dengannya, Lalu dia (Al-Halabi) berkata kepadaku dengan mulutnya: Sesungguhnya dia itu takut dan gentar kepada Syaikh Rabi’, dan aku telah duduk bersamanya dan menyebutkan apa yang Aku ketahui dari kesalahan- kesalahannya, dan ia mengakui sebagiannya, dan dia telah mengoreksinya di hadapanku, sehingga tidak perlu lagi untuk membuat tantangan dengannya.

6. PENIPUAN DIA DAN YANG BERSAMANYA TERHADAP PARA PEMUDA SALAFIYIN

DAN MEMBIARKAN MEREKA DALAM KEJAHILAN DAN TIDAK MEMBERI PERLAJARAN KEPADA MEREKA.

Adapun penipuannya terhadap para pemuda, dan mengaburkan permasalahan terhadap mereka dalam hal ilmu, bukti akan hal tersebut bahwa kalau seseorang berusaha mencari di Yordania mulai dari timur hingga barat, dari utara hingga selatan, maka dia tidak akan mendapatkan seorang penuntut ilmu yang terdidik melalui tangan- tangan mereka, dan mengambil ilmu dari mereka dengan pendidikan yang ilmiyah dan yang benar. Namun di sekitar mereka hanyalah sebagian orang yang perhatian terhadap dirinya sendiri dan Allah memberi kepadanya rezki berupa hafalan yang kuat sehingga dia bisa menghafal dan berbicara. Yang terbaik dari keadaannya adalah yang mengambil faedah dari kaset- kaset, sementara mereka tidak pernah membuat pelajaran yang bersifat prinsip kecuali jarang sekali, mereka mengajarkan sebagian pelajaran dan daurah dengan tujuan untuk mengikat para pemuda dengan mereka dan memutus hubungan para pemuda tersebut dari ulama salafiyin, untuk menjaga diri dari tahdzir ulama terhadap mereka, dan agar mereka mengesankan kepada para pemuda bahwa merekalah yang mengajari dan memberi manfaat kepadanya, sehingga tidak lagi butuh kepada selain mereka. Ada beberapa orang dari penuntut ilmu yang mengeluhkan kepadaku tentang keadaan mereka. Salah seorang mereka berkata kepadaku: Aku berjalan bersama mereka selama 15 tahun, saya tidak mendapatkan hasil kecuali pengetahuan biasa. Suatu hari Aku mendengar Masyhur (Hasan Salman) berkata tatkala ditanya tentang mengajar: Engkau mengajari seseorang lalu dia berbalik membantahmu. Salim Al-Hilali diminta untuk membuka cabang markiz Al-Albani di salah satu daerah karena permasalahan undang- undang, dan agar penuntut ilmu yang dia ketahui dapat belajar, maka dia menolak dan berkata: Kami tidak menghendaki dari kelas dua yang keras suaranya terhadap kelas satu. Beginilah keadaan mereka.

Kesimpulan dari hal ini, Aku mendapati satu kaum yang semangat terhadap harta dan kekuasaan melalui jalur dakwah salafiyah, dan bertumpu di atas punggung Imam Al-Albani رحمه الله , Wallahul musta’an, dan Aku akan menjadi seteru mereka pada hari kiamat insya Allah…..

Selesai dengan keutamaan dari Allah عز وجل

ditulis oleh:

Syaikh Ali Ramli Al-Urdunni حفظه الله

Sumber:

http://www.mnhj.net/vb/threads/6961-الشيخ-علي-الرملي-.علي-الحلبي-من-خلال-معرفتي-به.