Sembelihan Dan Syaratnya

SEMBELIHAN DAN SYARAT-SYARATNYA

(Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah)

Dzakaah (sembelihan) adalah melakukan sesuatu yang seekor hewan tidak halal kecuali dengannya baik dengan cara nahr, dzabh atau melukai.

Nahr untuk onta, dzabh untuk selain onta dan melukai untuk hewan yang tidak bisa dikuasai kecuali dengan cara melukainya.

Dalam menyembelih ada sembilan syarat:

Pertama:

Yang melakukan penyembelihan adalah orang yang berakal dan memahami perbuatannya. Tidak halal sembelihan dari seorang yang gila,mabuk, anak kecil yang belum memahami perbuatannya atau orang tua yang telah pikun dan yang semisal mereka.

Kedua:

Yang menyembelih adalah seorang muslim atau dari ahli kitab, yaitu yang menisbatkan dirinya kepada agama Yahudi atau Nashara. Adapun muslim, dihalalkan sembelihannya baik ia seorang lelaki maupun wanita, seorang yang adil ataupun fasik dalam keadaan suci atau berhadats.

Adapun ahli kitab, maka dihalalkan sembelihannya, baik ayah dan ibunya juga termasuk ahli kitab atau bukan. Kaum muslimin telah bersepakat akan kehalalan sembelihan ahli kitab berdasarkan firman Allah subhaanahu wata’ala:

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ

Makanan orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, (QS.Al-Maidah:5)

Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakan daging kambing yang dihadiahkan seorang wanita Yahudi kepadanya.[1] Beliau juga memakan roti gandum dan lemak daging yang telah berubah baunya yang dihadiahkan seorang Yahudi kepadanya.

Adapun orang- orang kafir selain ahli kitab, maka tidak dihalalkan apa yang mereka sembelih, berdasarkan pemahaman dari firman Allahsubhaanahu wata’ala :

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ( ….

“… dan makanan (sembelihan) orang- orang yang di beri al-kitab…”(QS. Al-Maidah: 5)

Makna “orang- orang yang diberi al-kitab” merupakan isim maushul (kata sambung الذين, pent) dan penghubungnya, keduanya berkedudukan sebagai sebuah akar kata yang mengandung sifat yang memiliki makna menetapkan hukum adanya sesuatu dan meniadakan yang lainnya.

Berkata Imam Ahmad: “Aku tidak mengetahui seorang yang berpendapat menyelisihi pendapat ini kecuali dia ahli bid’ah”, Al-Khazin juga menukil ijma’ dalam tafsirnya. Maka berdasarkan hal ini, tidak halal apa yang disembelih oleh orang-orang komunis dan kaum musyrikin lainnya, sama saja dalam hal ini apakah kesyirikan mereka dari perbuatan seperti yang sujud kepada berhala atau dengan ucapan seperti yang berdoa kepada selain Allah subhaanahu wata’ala. Tidak halal pula apa yang disembelih oleh orang yang meninggalkan shalat, sebab dia kafir menurut pendapat yang lebih kuat. Sama saja apakah dia meninggalkannya karena menganggap remeh atau karena mengingkari kewajibannya. Tidak halal pula yang disembelih oleh orang yang mengingkari kewajiban shalat lima waktu meskipun dia sendiri melakukan shalat, kecuali jika dia termasuk orang yang tidak memiliki ilmu tentang hal tersebut karena baru masuk islam dan yang semisalnya.

Tidak diharuskan bertanya tentang sembelihan seorang muslim atau ahli kitab tentang bagaimana cara dia menyembelih, apakah dia menyebut nama Allah atau tidak?, bahkan tidak sepantasnya melakukan hal itu, sebab itu merupakan perbuatan yang berlebihan didalam agama. Nabi shallallahu alaihi wasallam, memakan apa yang disembelih oleh seorang yahudi dan tidak bertanya kepada mereka. Disebutkan dalam shahih Bukhari dan yang lainnya, dari Aisyah radiallahu anha, bahwa ada satu kaum yang bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam“Ada satu kaum yang memberikan kepada kami daging yang kami tidak tahu, apakah mereka menyebut nama Allah atau tidak?”, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab:

Kalian bacalah nama Allah dan makanlah.”[2]

Berkata Aisyahradiallahu anha,: “Mereka adalah orang-orang yang baru saja meninggalkan kekafirannya, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk memakannya tanpa harus bertanya kepada mereka. Padahal orang-orang yang memberikan daging tersebut bisa saja tersamarkan bagi mereka sebagian hukum islam karena baru saja meninggalkan kekafirannya.

Ketiga:

Berniat untuk menyembelih, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ( ….

“Kecuali yang kalian sembelih.”(QS. Al-Maidah : 3)

Menyembelih merupakan perbuatan khusus yang memerlukan niat. Jika dia tidak berniat menyembelih, maka tidak halal sembelihan tersebut. Misalnya, ia diserang oleh seekor hewan ternak lalu dia menyembelihnya dengan maksud membela diri saja.

Syarat Keempat:

Sembelihan bukan untuk selain Allah subhaanahu wata’ala. Jika untuk selain Allah subhaanahu wata’ala, maka tidak halal sembelihan tersebut seperti seseorang yang menyembelih untuk mengagungkan patung, penghuni kuburan, malaikat atau orang tua dan yang lainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah subhaanahu wata’ala:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ ( ….

“Diharamkan bagimu bangkai, darah , daging babi, yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Maidah: 3)

Syarat kelima:

Jangan dia menyebut selain nama Allah subhaanahu wata’ala, misalnya dia berkata: “Dengan nama Nabi shallallahu alaihi wasallam, atau Jibril Alaihis Salam atau si fulan.” Jika dia menyebut nama selain Allah subhaanahu wata’ala, maka tidak halal meskipun ia menyebut nama Allah bersamanya berdasarkan firman Allah subhaanahu wata’ala:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ ( ….

“Diharamkan bagimu bangkai, darah , daging babi dan apa yang disembelih atas nama selain Allah…” (QS. Al-Maidah: 3)

Dalam hadits qudsi yang shahih Allah subhaanahu wata’ala berfirman:

“Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang dia menyekutukan dengan selain Aku bersama-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya.”[3]

Syarat keenam:

Dia menyebut nama Allah subhaanahu wata’ala pada saat menyembelih. Dia mengucapkan disaat menyembelih: Bismillah”, berdasarkan firman Allah subhaanahu wata’ala :

فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ (

“Maka makanlah binatang-binatang yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya.”

(QS.Al-An’aam: 118)

Demikian pula sabda Rasulullah

ما أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عليه فَكُلُوهُ

Sesuatu yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah atasnya, maka makanlah.”HR. Bukhari dan yang lainnya.[4]

Jika dia tidak menyebut nama Allah subhaanahu wata’ala disaat menyembelih, maka sembelihan tersebut tidak halal berdasarkan firman Allah subhaanahu wata’ala:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ( ….

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.” (QS. Al-An’am: 121)

Tidak ada perbedaan antara seseorang yang meninggalkan membaca nama Allah atasnya dengan sengaja dalam keadaan ia mengetahui hukumnya, lupa atau jahil berdasarkan keumuman ayat ini. Demikian pula Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang menjadikan bacaan basmalah sebagai syarat akan kehalalan dan syarat tidak gugur karena lupa atau jahil. Sebab jika dia menghilangkan ruh hewan dengan tanpa mengalirkan darah karena lupa atau jahil, maka sembelihan tersebut tidak halal. Demikian pula disaat dia meninggalkan bacaan basmalah sebab pembahasannya sama dan dari pembicara yang sama, maka tidak benar jika dibedakan.

Jika yang menyembelih seorang yang bisu yang tidak mampu mengucapkan basmalah, maka cukup dengan isyarat yang menunjukkan hal itu berdasarkan firman Allah subhaanahu wata’ala:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ( ….

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…”

(QS.At-Taghabun:16)

Syarat ketujuh:

Sembelihan dengan alat yang tajam yang mengalirkan darah, terbuat dari besi,batu, kaca atau yang lainnya berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

ما أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ فكلوا ما لم يَكُنْ سِنٌّ ولا ظُفُرٌ وَسَأُحَدِّثُكُمْ عن ذلك أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفْرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ

“Apa yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah, maka makanlahselama bukan terbuat dari gigi dan kuku. Dan aku akan beritakan kepada kalian, “Adapun gigi maka hal itu termasuk tulang, sedangkan kuku maka itu merupakan pisau milik kaum Habasyah.” Diriwayatkan oleh al-jama’ah.

Dalam shahih Bukhari dalam satu riwayat :

“Selain gigi dan kuku, sebab gigi merupakan tulang dan kuku adalah pisau milik kaum Habasyah.”

Disebutkan dalam dua shahih (Bukhari dan Muslim) bahwa seorang budak wanita milik Ka’ab bin Malik radiallahu anhu memelihara kambing miliknya di Sala’. Lalu ia melihat seekor kambing diantara sekumpulan kambing tersebut yang mendekati kematiannya, maka diapun memecahkan sebuah batu lalu menyembelihnya. Kemudian mereka menyampaikan hal itu kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan beliau shallallahu alaihi wasallam, menganjurkan untuk memakannya.

Jika dia menghilangkan ruhnya dengan selain alat yang tajam, maka hal itu tidak halal seperti mencekiknya atau menyetrumnya dengan listrik dan yang semisalnya hingga mati. Jika dia melakukannya hingga tidak sadarkan diri, lalu dia menyembelihnya dengan cara syar’i dalam keadaan masih bernyawa, maka sembelihan itu halal berdasarkan firman Allahsubhaanahu wata’ala:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ ( ….

“Diharamkan bagimu bangkai, darah , daging babi, yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya.” (QS. Al-Maidah: 3)

Kondisi masih bernyawa memiliki dua tanda:

Pertama:Ia bergerak

Kedua:keluarnya darah merah dengan deras.

Syarat kedelapan:

Mengalirkan darah, yaitu mengalirkannya dengan disembelih berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :

ما أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عليه فَكُلُوهُ

Sesuatu yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah atasnya, maka makanlah.”

Jika hewan itu tidak dikuasai seperti melarikan diri, terjatuh ke dalam sumur atau gua dan yang semisalnya, maka cukup dengan mengalirkan darahdibagian mana saja dari tubuhnya. Lebih utama jika dia berusaha mencari titik yang lebih cepat menghilangkan nyawanya, sebab hal itu lebih menenangkan hewan dan lebih sedikit dalam menyakitinya.

Jika hewan tersebut dikuasai, maka harus dengan cara mengalirkan darah di bagian leher bagian bawahnya hingga ke dua tulang dagunya agar dapat memotong dua urat lehernya, yaitu dua urat yang tebal yang mengitari tenggorokannya. Lebih sempurna lagi jika dipotong bersama dua urat tersebut tenggorokan, yaitu saluran pernapasan dan kerongkongan, yaitu saluran makanan dan minuman agar benar-benar hilang sisa kehidupannya yaitu darahnya dan jalurnya yaitu kerongkongan dan tenggorokan. Namun jika dia mencukupkan memotong dua urat lehernya saja, maka hal itu sudah cukup.

Syarat kesembilan:

Hewan yang disembelih diijinkan untuk disembelih secara syar’i. Adapun yang tidak diijinkan ada dua macam:

Pertama: Yang diharamkan karena hak Allah subhaanahu wata’ala, seperti buruan di tanah haram dan buruan saat sedang melakukan ihram. Maka hal itu tidak halal meskipun disembelih, berdasarkan firman Allah subhaanahu wata’ala

أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ( ….

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu . Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji.” (QS.Al-Maidah:1)

Dan firman-Nya

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram.” (QS. Al-Maidah: 96)

Kedua: Yang diharamkan karena kaitannya dengan hak makhluk, seperti yang diambil secara paksa atau yang dicuri lalu disembelih oleh yang mengambilnya secara paksa atau yang mencurinya. Tentang kehalalannya ada dua pendapat ulama, silahkan lihat dua pendapat tersebut dan dalilnya dalam kitab asalnya,hal:88-90.



[1]HR.Bukhari, Kitab: Al-Hibah,bab: Qabuul al-hadiyah minal musyrikin,no:2617. Muslim, Kitab: Ath-Thibb,bab: As-Sum,no: 2190.

[2]HR.Bukhari, kitab: Adz-Dzabaih,bab: Dzabihatul a’raab wa nahwihim,no:5507.

[3]HR.Muslim,kitab: Az-Zuhud war-Raqaiq, bab: Man asyraka fii amalihi ghairallah,no:2985.

[4]HR.Bukhari, Kitab: Asy-Syarikah, bab: Qismatul ghanam,no: 2488. Muslim, Kitab: Al-Adhahi,bab: Jawaaz adz-dzabhi bikulli maa anharad dam illas sinna,no: 1968, Abu Dawud, Kitab: Adh-Dhahaya, bab: Fidz-dzabiihati bil marwah,no:2821. Tirmidzi, Kitab: Ash-Shaid,bab: Maa jaa’a fidz dzakaah bil-qashbi wa ghairihi,no: 149. An-Nasaai, Kitab: Adh-Dhahaya,bab: Dzikril munfalitah allatii laa yaqdiru ‘an akhdziha,no:4409,4410. Ibnu Majah, Kitab: Adz-Dzabaaih,bab: Maa yudzakkaa bihi,no:3178.

—————————-

Dari Kitab : “Talkhis Kitab Ahkam Al Udhiyah wa Adz Dzakat”
Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah
Terjemah : Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari hafizhahullah