Hukum menggunakan sisa air yang digunakan Lelaki dan sisa air yang digunakan Wanita ketika mandi

LANJUTAN FAEDAH HADITS BULUGHUL MARAM KITAB BERSUCI

air_sisa

وَعَنْ رَجُلٍ صَحِبَ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ تَغْتَسِلَ الْمَرْأَةُ بِفَضْلِ الرَّجُلِ, أَوْ الرَّجُلُ بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ, وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا. أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ. وَالنَّسَائِيُّ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ

6- Dari seorang lelaki yang pernah bersahabat dengan Rasulullah َصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّم berkata: Rasulullah َصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّم melarang seorang wanita menggunakan sisa air lelaki, atau lelaki menggunakan sisa air wanita. Hendaklah keduanya menciduk.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasaai, dan sanadnya sahih.

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا. أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

7- Dari Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنُْه bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّمَ mandi dengan air bekas Maimunah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا .

Diriwayatkan oleh Muslim

وَلِأَصْحَابِ السُّنَنِ: اغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – فِي جَفْنَةٍ, فَجَاءَ لِيَغْتَسِلَ مِنْهَا, فَقَالَتْ لَهُ: إِنِّي كُنْتُ جُنُبًا؟ فَقَالَ: «إِنَّ الْمَاءَ لَا يُجْنِبُ». وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ خُزَيْمَةَ.

8- Dalam riwayat Ashabus sunan: “Sebagian isteri Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّمَ mandi dalam sebuah baskom, lalu Beliau datang untuk mandi dari air tersebut. Isterinya berkata kepadanya: sesungguhnya Aku tadi dalam keadaan junub? Maka Rasulullah َصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّم menjawab: “Sesungguhnya air tidak menjadi junub pula.”

Disahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

 

TA’LIQ

Hadits keenam adalah hadits yang sahih, tidak diketahui siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits tersebut, tidak memudaratkan sebuah riwayat, karena telah diketahui bahwa seluruh para sahabat adalah orang- orang yang adil dan terpercaya.

Hadits ketujuh diriwayatkan Muslim, adalah hadits yang sahih.

Hadits kedelapan juga termasuk hadits yang sahih.

Yang dimaksud air sisa dalam hadits tersebut adalah air yang masih tersisa dalam sebuah ember, baskom, atau yang semisalnya, setelah digunakan oleh lelaki atau wanita dengan menggunakan gayung untuk mengambilnya.

Adapun makna “air tidak menjadi junub” adalah bahwa air tersebut tidak menjadi najis bila air tersebut digunakan mandi oleh orang yang dalam keadaan junub.

 

Faedah hadits

1- Larangan seorang lelaki mandi dari bekas air yang digunakan oleh wanita, demikian pula sebaliknya.

2- larangan disini tidak menunjukkan haram, namun makruh. Berdasarkan riwayat setelahnya yang menunjukkan bolehnya. Syaikh Ibnu Utsaimin menyebutkan bahwa larangan tersebut adalah larangan yang berkaitan dengan masalah adab.

3- Anjuran ketika mandi bersama, agar masing- masing mengambil air sendiri dengan menggunakan gayung atau yang semisalnya.

4- Boleh seorang suami melihat aurat isterinya, demikian pula sebaliknya.

5- baiknya pergaulan Rasulullah َصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّم bersama isteri- isterinya.

6- disyariatkannya berpoligami.

7- air tetap dalam keadaan suci dan menyucikan selama tidak berubah salah satu dari tiga sifatnya disebabkan karena najis yang bercampur padanya.

https://telegram.me/Askarybinjamal