Meraih Keutamaan Lailaahaillallah

Kesyirikan, kata sebagian orang, hanyalah sebatas menyembah patung atau berhala. Mereka pun kemudian merasa sebagai orang yang senantiasa bertauhid. Padahal, di jarinya melingkar jimat penolak bala, di hatinya tumbuh pengagungan yang berlebihan kepada tokoh tertentu, keseharian mereka dipenuhi ritual-ritual ‘persembahan’, dan ‘tak lupa’ menjadikan dukun sebagai pelarian. Sesempit inikah kalimat La ilaha illallah yang mereka pahami?

Banyak orang mengira bahwa agama bisa dipakai untuk mencapai tujuan-tujuan yang bersifat keduniaan. Tak heran jika kemudian berlomba-lomba orang ingin menjadi tokoh agama, kyai, ustadz, habib, dan sebagainya dalam rangka mendapatkan apa yang diinginkannya. Selanjutnya agama dijadikan alat untuk meraih popularitas, jabatan, kekuasaan, materi, dan berbagai kesenangan dunia lainnya.

Berbagai ambisi ini, sangat mungkin akan menggiring pelakunya untuk meng-halalkan segala cara. Hanya bermodal pan-dai berpidato, hapal sedikit ayat Al-Qur`an dan hadits, ia pun berani ceramah di mana-mana. Tak sedikit pula yang berusaha mendompleng tokoh yang sudah terkenal demi mendapatkan keuntungan yang sebenarnya sangat sedikit. Atau ada yang berani membayar mahal tokoh tertentu agar “dagangan” yang ia jajakan bisa laku di masyarakat.
Di masa kini, upaya memperoleh kekayaan dengan menjual agama bukan hal baru lagi. Yang menjadi korban tentu saja umat yang tidak tahu apa-apa. Kebodohan mereka dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, demi memuaskan nafsu sesaat. Mereka adalah orang-orang yang tidak takut kepada Allah subhaanahu wata’aala, orang-orang yang telah menjadi budak dunia dan hawa nafsu.

Di sisi lain, banyaknya orang yang berambisi mendapatkan dunia dengan mengatasnamakan agama ini, memuncul-kan pula persaingan di antara mereka sendiri. Jegal menjegal pun kerap terjadi. Tuding-menuding, saling menyalahkan, menganggap dirinya benar, bukan sesuatu yang aneh lagi. Kesombongan telah merasuki jiwa-jiwa mereka. Dalam keadaan ini, lagi-lagi kaum musliminlah yang akan menjadi korban.
Tidakkah mereka mendengar peringatan Allah subhaanuhu wat’aala:

“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (Al-Baqarah: 86)

“Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan, maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka.” (Al-Baqarah: 175)

Demikianlah kehidupan seseorang yang tidak berpijak pada kalimat . Matanya tertutup untuk melihat ke depan yaitu negeri akhirat. Tertutup telinganya untuk mendengar peringatan-peringatan Allah subhaanuhu wat’aala dan Rasul-Nya. Tertutup mata hatinya untuk mengkaji dan memahami ayat-ayat Allah subhaanuhu wat’aala. Mereka tak ubahnya binatang ternak, bahkan lebih sesat dari itu. Yang ada adalah pelampiasan syahwat birahi dan syahwat perut. Yang tergambar dalam benaknya adalah bagaimana meraih dunia sebanyak-banyaknya.

Kedudukan
Kalimat ini senantiasa dikumandang-kan oleh kaum muslimin dalam adzan, iqamat, khutbah, atau percakapan mereka. Kalimat yang dengannya tegak langit dan bumi, diciptakannya seluruh makhluk, diutusnya para rasul, diturunkannya kitab-kitab dan diletakkannya syariat. Dengan sebab kalimat itu pula ditegakkannya timbangan dan catatan-catatan amal, serta ditegakkannya (kehidupan) surga atau neraka.

Dengan kalimat , manusia terbagi menjadi mukmin dan kafir. Di atas kalimat itu ada penciptaan, perintah, pahala, dan ancaman. Itulah kalimat yang karenanya diciptakan seluruh makhluk dan hak-haknya, adanya pertanyaan dan hisab. Di atas kalimat itu pula ada pahala dan adzab.

Di atasnya ditegakkannya kiblat, didirikannya agama dan dihunuskannya pedang-pedang jihad. Kalimat merupakan hak Allah subhaanahu wat’aala, atas seluruh hamba. Ini adalah sebuah kalimat Islam, kunci negeri keselamatan. Dan tentang kalimat inilah orang yang terdahulu maupun yang terakhir akan ditanya. Tidak akan bergeser dua kaki anak Adam di hadapan Allah subhaanahu wat’aala, sampai ditanya dua permasalahan. Pertama: Apa yang dulu kalian sembah? Kedua: Bagaimana tanggapan kalian terhadap para rasul yang diutus.

Jawaban yang pertama adalah dengan merealisasikan kalimat , mengilmui, mengakui, dan mengamal-kannya. Jawaban kedua adalah dengan merealisasikan makna syahadat Muham-mad Rasulullah n, mengilmui, tunduk dan taat. (Zadul Ma’ad, 1/2)

Kalimat adalah kalimat pemisah antara kekufuran dan Islam. Ini adalah kalimat ketakwaan dan ‘urwatul wutsqa (tali yang kokoh) yang dijadikan oleh Nabi Ibrahim u sebagai kalimat yang kekal pada anak keturunannya, sebagaimana firman Allah subhaanahu wat’aala,:

“(Dan Nabi Ibrahim u menjadikannya) kalimat yang abadi pada anak keturunannya agar mereka kembali.” (Az-Zukhruf: 28)
Allah subhaanahu wata’aala telah mengangkat persaksian dengan kalimat atas diri-Nya, berikut para malaikat, ahli ilmu dari hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah subhaanahu wat’aala,:

“Allah mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia (dan ikut bersaksi) para malaikat dan orang-orang yang diberikan ilmu (bersaksi) dengan penuh keadilan, tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana.” (Ali ‘Imran: 18) [Lihat Majmu’atut Tauhid, hal. 105-167]

Kalimat ini merupakan kalimat yang menunjukkan keikhlasan dan persaksian yang benar, dakwah yang benar dan per-nyataan bara` (berlepas diri) dari kesyirikan. Karena kalimat inilah makhluk diciptakan. Allah subhaanahu wat’aala, berfirman:

“Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyem-bah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Karena kalimat ini pula para nabi dan rasul diutus, serta kitab-kitab diturunkan. Sebagaimana firman Allah subhaanahu wat’aala,:

“Dan tidaklah Kami mengutus sebelum-mu seorang rasulpun, kecuali Kami wahyu-kan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya: 25)
Allah subhaanahu wata’aala berfirman:

“Allah menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya yaitu: ‘Maka peringatkan olehmu sekalian bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Aku, maka bertaqwalah kalian kepada-Ku’.” (An-Nahl: 2)

Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Tidak ada nikmat yang paling besar yang diberikan kepada seorang hamba daripada Allah subhaanahu wat’aala, mengajarkan kepada mereka makna . Sesungguhnya kalimat bagi penduduk surga, seperti air yang dingin bagi penduduk dunia.” (Kalimatul Ikhlas karya Ibnu Rajab, hal. 52-53 )

Kalimat yang barangsiapa mengucap-kannya akan terpelihara hartanya, darahnya. Dan barangsiapa enggan mengucapkannya maka darah dan hartanya halal untuk ditumpahkan dan dirampas. Di dalam Shahih Muslim, Rasulullah n bersabda: “Barangsiapa mengucapkan dan ingkar kepada sesembahan selain Allah subhaanahu wat’aala, maka haram hartanya (untuk dirampas) dan darahnya (untuk ditumpahkan) serta hisabnya ada di sisi Allah subhaanahu wat’aala,.”

Kalimat adalah kalimat yang pertama kali dituntut bagi orang kafir ketika dia masuk Islam. Karena ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal radiallahu anhu ke negeri Yaman, beliau berkata:
“Sesungguhnya kamu akan mendatangi Ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Maka hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah persaksian kepada kalimat .”

Dari sinilah kita mengetahui betapa besar kedudukandalam agama dan kita mengetahui pentingnya dalam kehidupan. Kalimat ini adalah kewajiban pertama kali atas setiap hamba karena kalimat ini merupakan asas dibangunnya seluruh amalan. (Laa ilaha illallah Ma’naha wa Makanatuha, hal. 6-9)

Keutamaan Kalimat
Kalimat memiliki keutama-an yang besar dan kedudukan yang tinggi. Barangsiapa mengucapkannya dengan jujur, Allah subhaanahu wat’aala, akan memasukkannya ke dalam surga. Dan barangsiapa yang mengucap-kannya dengan penuh kedustaan (secara lahiriah saja) maka dia munafiq, darah dan hartanya terjaga akan tetapi hisabnya di sisi Allah subhaanahu wat’aala,.
Kalimat adalah sebuah kalimat yang ringkas, sedikit hurufnya, ringan dalam ucapan akan tetapi berat dalam timbangan. Di antara dalil yang menunjukkan demikian adalah:
Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Malik (no. 449) dan At-Tirmidzi (no. 3509) dari shahabat Ibnu ‘Umar c secara marfu’1:

“Seutama-utama doa adalah doa pada hari ‘Arafah dan sebaik-baik perkataan yang diucapkan olehku dan oleh para nabi sebelumku adalah:

Di antara hadits yang menunjukkan beratnya kalimat dalam tim-bangan adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Seseorang dari umatku dipanggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, lalu dihamparkan di hadapannya 99 lembaran (kesalahan) dan setiap satu lembar (besarnya) sepanjang mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Apakah kamu akan mengingkarinya?’ Dia berkata: ‘Tidak, wahai Rabb.’ Dikatakan kepadanya: ‘Apakah para pencatat kami telah berbuat dzalim terhadapmu?’ Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Apakah engkau memiliki kebaikan untuk menandinginya?’ Orang tersebut ketakutan dan mengatakan: ‘Tidak ada.’ Lalu dikatakan kepadanya: ‘Kamu memiliki kebaikan-kebaikan di sisi Kami dan tidak ada kedzaliman atasmu.’ Lalu dikeluarkan sebuah kartu yang di dalamnya terdapat persaksian terhadap kalimat Laa ilaha illallah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, apa arti kartu ini dibandingkan hamparan lembar (dosa-dosaku) ini?’ Dikatakan kepadanya: ‘Kamu tidak akan terdzalimi.’ Kemudian lembaran-lembaran itu diletakkan pada sebuah daun timbangan dan kartu itu dalam daun timbangan lainnya. Lalu terangkatlah lembaran-lembaran tersebut dan kartu itu menjadi berat.”2

Ibnu Rajab dalam kitabnya Kalimatul Ikhlas (hal. 54-66) menyebutkan banyaknya keutamaan kalimat :
“Kalimat merupakan harga surga. Barangsiapa yang di akhir hayatnya (mengucapkan) kalimat maka dia akan masuk ke dalam surga, selamat dari api neraka. Kalimat ini akan menyebabkan adanya pengampunan dan kebaikan yang paling tinggi. Kalimat ini akan mengha-puskan dosa-dosa dan kesalahan, akan memperbahurui iman yang tumbuh di dalam hati dan akan mengangkat catatan-catatan dosa. Kalimat akan membakar hijab-hijab sehingga seseorang bisa sampai kepada Allah subhaanahu wat’aala,.

Kalimat inilah yang para pengucapnya dibenarkan oleh Allah subhaanahu wat’aala,. Kalimat ini merupakan ucapan para nabi yang paling utama, dzikir yang paling afdhal. Sebuah amalan yang paling utama dan yang paling banyak kelipatannya, sebanding dengan membebaskan budak-budak. Sebuah kalimat yang akan menjaga seseorang dari setan, yang akan memberikan rasa aman dari kengerian kubur dan kengerian padang Mahsyar. Kalimat yang merupakan syi’ar orang-orang yang beriman bila mereka dibangkitkan dari kubur mereka. Termasuk keutamaannya adalah dibukakan bagi para pengucapnya pintu surga yang delapan, dan dia masuk dari pintu mana pun yang dia inginkan. Termasuk keutamaannya adalah jika pengucapnya masuk ke dalam neraka karena dia melanggar hak-hak kalimat ini, mereka mesti akan keluar darinya.”

Makna
Kenapa kita harus membahas lagi kalimat ? Bukankah kita telah mengucapkannya setiap saat dan kita meyakini bahwa Allah subhaanahu wat’aala, satu-satunya Dzat yang wajib disembah? Lalu apa faedah yang kita ambil dari pembahasan ini?
Pembaca yang budiman, pertanyaan seperti ini kerap kali muncul karena beberapa hal:
1. Kejahilan tentang kandungan kalimat , maknanya, konsekuensi-konsekuensinya, dan segala perkara yang akan membatalkannya.
2. Ketidaktahuan tentang dasar dan tujuan dakwah para nabi dan rasul yang semuanya bertujuan menyerukan kepada kalimat
3. Tidak melihat fenomena kaum muslimin di penjuru dunia, di mana mayo-ritas mereka melanggar makna kalimat tersebut atau melanggar hak-haknya.
4. Dia sendiri tidak bisa memetik kan-dungan kalimat dalam hidupnya.
5. Berkuasanya hawa nafsu dan penyimpangan pada dirinya, sehingga merasa terganggu bila mendengar seruan kepada kalimat .
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Qurratu ‘Uyun Al-Muwahhidin (hal. 61) mengatakan: “Ucapan Rasulullah n: ‘Hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka mempersaksikan kalimat .’ Mereka mengucapkan kalimat , namun jahil tentang makna yang dimaukan kalimat tersebut, yaitu mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah I semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya.
Oleh karena itu ucapan mereka tidak memberikan manfaat kepada mereka sedikitpun karena kejahilan mereka tentang makna kalimat ini, sebagaimana situasi ini telah menimpa kebanyakan umat Islam saat ini. Mereka mengucapkannya, namun bersamaan dengan itu mereka menyekutukan Allah subhaanahu wata’aala dengan selain-Nya, seperti orang-orang yang telah mati, makhluk ghaib, thagut-thagut, dan monumen-monumen.
Mereka melakukan perbuatan yang membatalkan kalimat dan menetapkan apa yang dinafikan olehnya berupa segala bentuk kesyirikan baik secara i’tiqad (keyakinan), ucapan maupun amal mereka. Mereka melakukan perbuatan yang menafikan apa yang ditetapkan oleh kalimat berupa keharusan meng-ikhlaskan peribadatan hanya untuk Allah subhaanahu wata’aala. Mereka menyangka bahwa makna hanyalah tidak ada yang sanggup menciptakan kecuali Allah subhaanahu wata’aala (padahal lebih luas dari itu). Ini merupakan sikap membebek kepada ahli kalam dari kalangan Al-Asy’ariyyah dan selain mereka.
Padahal (makna yang mere-ka yakini itu) merupakan tauhid Rububiyyah yang diyakini pula oleh kaum musyrikin. Namun keyakinan ini tidaklah memasukkan mereka ke dalam Islam, sebagaimana firman Allah subhaanahu wata’aala:

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka (kaum musyri-kin, red.) akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang empunya langit yang tujuh dan yang mempunyai ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mu’minun: 84-89)

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’.” (Yunus: 31)
Dalam memaknakan kalimat manusia terbagi menjadi tiga golongan:

Golongan pertama: Orang-orang yang bersikap melampaui batas (ifrath) dalam memaknakannya (dengan memasuk-kan sesuatu yang bukan kandungan kalimat itu sebagai makna kalimat itu). Sehingga mereka tidak sanggup mengamalkan isi kandungan kalimat karena terjatuh pada sikap memberatkan diri dalam beragama, seperti makna di kalangan kaum Sufiyah.
Golongan kedua: Orang-orang yang bersikap meremehkan (tafrith) makna sehingga memaknakannya hanya sebatas tauhid Rububiyyah, seperti makna menurut ahli kalam dan yang semadzhab dengan mereka.
Golongan ketiga: Orang-orang dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka adalah golongan wasath (tengah-tengah) antara dua golongan di atas.
Lalu apakah makna kalimat menurut Ahlus Sunnah? Maknanya adalah: Tidak ada sesembahan yang diibadahi dengan benar melainkan Allah subhaanahu wat’aala.
Lalu apakah konsekuensi makna ini? Insya Allah akan kita bahas edisi mendatang.

Catatan Kaki:

1. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2837, Al-Misykat 2598, At-Ta’liq Ar-Raghib (2/242) dan Ash-Shahihah no. 1503
2 HR. Al-Imam Ahmad no. 6699, At-Tirmidzi no.2563, Ibnu Majah no. 4290, dan Hakim dari shahabat Abdullah bin ‘Amar bin ‘Ash. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3469, Al-Misykat no. 5559, Ash-Shahihah no. 135, dan Ta’liq Ar-Raghib 2/240-241

Ditulis Oleh : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Sumber :

Meraih Keutamaan Lailaahaillallah